Khatimah

Yang dipaparkan dalam buku ini adalah sebuah penjabaran secara singkat dari sikap keberagamaan dan kemasyarakatan Aswaja, yaitu tawassuth dan I’tidal (tengah-tengah), tasamuh (toleran), tawazzun (keseimbangan), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).
Tawassuth dan I’tidal adalah sebuah sikap keberagamaan yang tidal terjebak pada titik-titik ekstrem. Sikap yang mampu menjumput setiap kebaikan dari berbagai kelompok. Kemampuan untuk mengapresiasi kebaikan dan kebenaran dari berbagai kelompok memungkinkan pengikut Aswaja untuk tetap berada di tengah-tengah.
Tasammuh adalah sebuah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang menerima kehidupan sebagai sesuatu yang beragam. Keragaman hidup menuntut sebuah sikap yang sanggup untuk menerima perbedaan pendapat dan menghadapinya secara toleran. Toleransi yang tetap diimbangi oleh keteguhan sikap dan pendirian.
Tawazun artinya seimbang. Keseimbangan adalah sebuah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang bersedia memperhitungkan berbagai sudut pandang dan kemudian mengambil posisi yang seimbang dan proporsional. Sebagaimana sikap tawassuth, tawazun juga menghendaki sebuah sikap keberagamaan yang tidak terjebak pada titik-titik ekstrem, misalnya kelompok keagamaan yang terlalu terpaku kepada masa lalu sehingga umat Islam sekarang hendak ditarik ke belakang mentah-mentah sehingga bersikap negatif terhadap setiap ikhtiar kemajuan. Atau sebaliknya, kelompok keagamaan yang menafikan seluruh kearifan masa lalu sehingga tercerabut dari akar sejarahnya. Aswaja menghendaki sebuah sikap tengah-tengah agar tidak terjebak ke dalam ekstremitas.
Amar ma’ruf nahi munkar atau mangajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah sebuah konsekuensi dari keyakinan kita terhadap kebenaran Islam ala Ahlissunnah wal Jama’ah. Saat ini banyak kelompok Islam yang sikap keberagamaannya tidak menunjukkan moderasi ala Aswaja tapi mengaku-aku Aswaja. Amar ma’ruf nahi munkar ditujukan pada siapa saja, muslim maupun non-muslim, yang melakukan kemungkaran dengan menebar perilaku destruktif, menyebarkan rasa permusuhan, kebencian dan perasaan tidak aman, serta menghancurkan keharmonisan hidup di tengah-tengah masyarakat.
Jka kita memeras kembali keempat nilai ideal tersebut, maka kita akan menemukan satu kata, yaitu moderat yang berarti seimbang, proporsional, dan toleran. Sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang moderat ini melandasi seluruh ajaran Aswaja sejak dulu. Oleh karena itu, maka perbedaan sikap antara kalangan muslim keras atau ekstrem yang saat ini sedang marak dengan sikap moderat kaum sunni tidak hanya terjadi saat ini, tapi sudah ada sejak dulu.
Asy’ariyah dan Maturidiyah yang dianggap sebagai ajaran tauhid Sunni tidak lain adalah sebuah ikhtiar mencari jalan tengah (moderat) antara ekstremitas Jabariyah dan Qadariyah/Mu’tazilah. Asy’ariyah dan Maturidiyah juga muncul sebagai respon atas sikap keberagamaan Mu’tazilah yang menganggap semua musuh-musuhnya sesat sehingga semua umat Islam harus mengikuti ajaran Mu’tazilah. Arogansi Mu’tazilah ini dilakukan dengan menggunakan kekuatan politik negara yang bersifat represif. Kalau saat ini ada kelompok muslim yang menganggap di luar kelompoknya adalah sesat dan hendak memaksakan pendapatnya dengan menggunakan kekuasaan negara (biasanya dengan cara mengislamkan negara), maka sungguh nyata bahwa mereka bukanlah kaum sunni.
Semangat moderasi juga kita temukan dalam empat ulama pendiri madzhab fiqih Sunni (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali). Mereka adalah ulama yang berjuang (ijtihad) untuk merumuskan hukum Islam dengan mencari keseimbangan antara dalil nash dan ra’yu (rasio). Hal ini terlihat semakin jelas dalam pribadi Imam Syafi’i, di mana dia sangat membela hadits shahih, tapi sekaligus juga menganjurkan qiyas (analogi) secara rasional serta merumuskan kaidah-kaidah fiqih yang bersifat logis dan rasional.
Semangat moderasi juga ditemukan dalam tasawuf Sunni. Al-Ghazali adalah salah satu ulama Sunni besar yang berusaha dengan keras menyelaraskan antara syari’at dengan hakikat. Bagi al-Ghazali, syari’at atau fiqih tanpa ada muatan tasawufnya menjadikan ibadah kering tanpa ruh, sementara tasawuf yang mengabaikan syari’at bisa terjebak dalam kesesatan. Karena itu, maka ada adagium yang sangat terkenal dalam masalah ini, yaitu “man tafaqqaha wala tashawwafa faqad tafassaqa, wa man tashawwafa wala tafaqqaha faqad tazandaqa” (orang yang mengikuti fiqih dengan mengabaikan tasawuf bisa terperosok dalam kefasikan, dan orang yang mengikuti tasawuf dengan mengabaikan fiqih bisa terperosok dalam ke-zindiq-an).
Sikap moderat yang diteladankan ulama Sunni itu tetap dilanjutkan oleh Walisongo dalam menyebarkan Islam di nusantara. Sepanjang sejarah dakwah Walisongo, kita menemukan sebuah upaya untuk mencari jalan tengah antara ajaran Islam sebagaimana yang tertera dalam nash dengan kondisi riil yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sikap moderat Walisongo tidak hanya berhasil dalam menyebarkan Islam, tapi juga mampu menghadirkan Islam yang toleran dan damai, bukan Islam yang garang dan menghancurkan (destruktif).
“Wallaahu a’lam bi al-shawab”
TIM PWNU JAWA TIMUR
ASWAJA AN-NAHDLIYAH
“Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah
Yang Berlaku di Lingkungan Nahdlatul Ulama”

Revisions

Comments

comments

No comments yet.

Leave a Reply